Contoh ETIKA

1.    Sebuah harian elektronik di Indonesia pada pertengahan bulan lalu mengangkat topik mengenai etika pertelevisian, terutama tayangan-tayangan yang disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi selama bulan Ramadhan. Harian tersebut mengungkapkan tradisi para stasiun TV swasta yang berlomba-lomba menyiarkan tayangan spesial selama bulan Ramadhan. Pertanyaan yang kemudian diungkapkan oleh harian tersebut adalah apakah tayangan spesial tersebut (terutama dalam bentuk acara komedi) benar “spesial” Ramadhan atau bukan, dan apakah tayangan tersebut menyajikan tayangan mendidik dan bermoral kepada penontonnya, atau malah merusak moral masyarakat di bulan suci tersebut?

Tayangan yang katanya spesial untuk mengisi bulan Ramadhan namun sama sekali tidak mencerminkan sisi-sisi positif dari bulan suci tersebut. Selain tingkah para pemain yang “tidak tepat”, ucapan para komedian pun kerap kali tidak dijaga. Komedi saling menghina fisik satu sama lain seolah sudah menjadi tren dunia komedi saat ini dan sudah menular hampir ke semua acara komedi. Padahal beberapa komedian sudah sering tersandung kasus dengan Komite Penyiaran Indonesia (KPI). Uniknya komedian yang tersandung tersebut tetap saja tidak jera melecehkan orang lain.

AA Gym ikut berkomentar soal tayangan tersebut. Menurutnya acara komedi sahur melecehkan bulan suci Ramadhan dan tidak membawa pesan moral yang baik. Seharusnya acara sahur diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. “Stasiun TV harus punya peraturan khusus yang mengatur etika bergurau,” katanya.

2.    Sebuah harian elektronik Daily Trojan memuat sebuah artikel yang berjudul Popular TV Shows Rely on Moral Ambiguity (Acara TV yang Populer Mengandalkan Ambiguitas Moral). Artikel tersebut  menyatakan bahwa jika ada aturan tidak tertulis dalam usia emas pertelevisian saat ini, maka itu adalah acara-acara hebat yang mengandung ambiguitas moral.

Salah satu film yang dibahas adalah sebuah film seri yang cukup populer yaitu The Sopranos, yang berkisah tentang kehidupan penuh simpatik seorang mafia. Dunia tempat berbagai tokoh dalam film ini hidup dan sistem dimana mereka beroperasi memaksa mereka untuk mengkompromikan posisi etis.

Film seri lainnya adalah Breaking Bad yang berkisah tentang seorang guru kimia yang menderita kanker dan tidak ada jalan lain untuk menghidup keluarganya selain melakukan kejahatan. Film ini mengarahkan pelaku dengan memberikan seluruh alasan di dunia untuk mengubah hidupnya menjadi seorang pelaku kriminal.

Masih banyak film televisi lainnya yang menyuguhkan hal serupa, keambiguitasan moral. Itulah tulang punggung acara: ambil pria normal dan buat ia menjadi penjahat, bukan karena lingkungannya, tetapi karena tindakannya. Terserah kepada masing-masing penonton untuk memutuskan kapankan ia akan mencapai titik dimana ia tidak dapat kembali.

3.    Dunia bisnis merupakan dunia yang terkesan penuh dengan kecurangan dimana berbagai cara dihalalkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tetapi siapa sangka bahwa dalam dunia bisnis pun terdapat etika yang menjunjung tinggi moral kejujuran. Berikut ini adalah beberapa hal yang menunjukkan secara jelas bahwa tanpa etika kejujuran, bisnis tersebut justru tidak akan berhasil atau bahkan bertahan lama.

Pertama, kejujuran dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Dalam mengikat perjanjian dan kontrak tertentu, semua pihak pelaku bisnis harus saling percaya, tulus serta jujur dalam membuat perjanjian atau kontrak tertentu dan dalam melaksanakan janjinya. Seandainya salah satu pihak berlaku curang dalam memenuhi syarat-syarat perjanjian tersebut, maka pihak yang dicurangi itu tidak akan mau lagi menjalin relasi bisnis dengan pihak yang curang itu.

Kedua, kejujuran dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Artinya sekali perusahaan menipu konsumen, entah melalui iklan atau melalui pelayanan yang tidak seperti yang dijanjikan, maka konsumen akan dengan mudah lari ke produk lain. Kenyataan bahwa banyak konsumen Indonesia lebih suka mengkonsumsi produk luar negeri daripada produk dalam negeri dikarenakan pengusaha luar negeri lebih bisa dipercaya kerena dengan jujur menawarkan produknya dengan kualitas yang baik dan tidak menipu konsumen.

Ketiga, kejujuran juga relevan dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan. Omong kosong bahwa suatu perusahaan bisa bertahan kalau hubungan kerja dalam perusahaan itu tidak dilandasi oleh kejujuran. Apabila karyawan terus-menerus ditipu oleh atasan dan sebaliknya, maka perusahaan itu lambat laun akan hancur jika suasana kerjanya penuh dengan akal-akalan dan tipu-menipu.

Dalam ketiga wujud diatas, kejujuran terkait dengan kepercayaan. Kepercayaan yang dibangun diatas dasar prinsip kejujuran merupakan modal dasar bagi kelangsungan dan keberhasilan dalam berbisnis.

sumber:
http://blogs.itb.ac.id/agneswi/2012/09/02/20/